A.
PENDAHULUAN
Manusia tidak dapat lepas dari aktivitas
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Sejak dilahirkan, manusia secara
langsung sudah berhubungan dengan sekitarnya dan sejak itu pula ia mulai
menerima rangsang (stimulus) dari luar dirinya. Yang disebut dengan
Persepsi. Persepsi adalah proses pengolahan informasi dari lingkungan yang
berupa stimulus, yang diterima melalui alat indera dan diteruskan ke otak untuk
diseleksi, lalu diorganisasikan, dikelompokkan, digolongkan sehingga
menimbulkan penafsiran atau penginterpretasian yang berupa penilaian dari
penginderaan atau pengalaman sebelumnya. Sehingga persepsi itu dapat membuat
manusia bisa memilih (ikhtiyar) dan
memilah (tafriq),
membedakan (tamyiz), menilai dan menentukan (tahkim) mana yang benar dan mana yang salah,
mana yang berguna dan mana yang berbahaya. Media yang digunakan untuk Persepsi
inderawi untuk memperoleh ilmu meliputi kelima indera (pendengar, pelihat,
perasa, penyium, penyentuh). Dan pembahasan Persepsi indrawi akan tersusun pada
makalah dibawah ini akan terfokus pada proses terjadinya persepsi dalam pengidraan, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana proses terjadinya persepsi
dalam pengindraan?
2. Faktor-faktor apakah yang
mempengaruhi persepsi?
3. Bagaimana persepsi indrawi dalam Al-Qur’an?
C.
PEMBAHASAN
1. Definisi Persepsi
Indrawi
Kata persepsi berasal dari kata perception
yang berarti penglihatan, tanggapan, daya memahami atau menanggapi sesuatu
yang diawali dengan pengindraan kemudian di transfer ke otak.[1]
Sedangkan indrawi bersal dari kata indra yang berarti alat untuk merasa,
mencium bau, mendengar, melihat, meraba dan merasakan sesuatu secara naluri
(intuitif). Pengindraan adalah cara, proses, perbuatan alat untuk merasakan
sesuatu.[2]
Dalam kamus besar bahasa Indonesia persepsi adalah proses seseorang mengetahui
beberapa hal melalui paca inderanya.[3]
Persepsi dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat
sesuatu, sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu
bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.[4]
Sedangkan menurut para ahli, salah satunya Jalaludin Rahmat memaknai bahwa
persepsi merupakan mengalaman tentang objek, peristiwa, pengalaman atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan.[5]
Jadi bisa disimpulkan bahwa persepsi
indrawi adalah proses diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan anta
gejala, maupun peristiwa) melalui pengindraan sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti.
2. Proses
terjadinya Persepsi
Tahap awal dari proses persepsi
adalah sensasi, sensasi adalah kesadaran akan adanya suatu rangsang. Sensasi
sama dengan pengindraan. Semua rangsang masuk dalam diri seseorang melalui
panca indra, yang kemudian diteruskan ke otak yang menjadikan sadar akan adanya
rangsang tersebut. Rangsang yang sekedar masuk dalam diri seseorang tetapi
hanya menyadarinya tanpa mengerti atau memahami rangsang tersebut disebut
sensasi. Tetapi jika disertai dengan pemahaman atau pengertian tentang rangsang
tersebut dinamakan persepsi.[6]
Proses terjadinya persepsi yaitu
objek yang menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indra atau
reseptor. Proses stimulus mengenai alat indra merupakan proses kealaman atau
proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indra diteruskan oleh syaraf
sensoris ke otak. Proses ini disebut fisiologis. Kemudian terjadilah proses
diotak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat,
atau apa yang didengar, atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima
melalui alat indra. Dalam proses persepsi,
terdapat 3 komponen utama, yaitu:
a. Seleksi, adalah proses penyaringan
oleh indra terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak
atau sedikit.
b. Interpretasi, yaitu proses
mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang.
c. Interpretasi dan persepsi kemudian
diterjemahkan dalam bentuk jadi tingkah laku sebagai reaksi, dan pembulatan
terhadap informasi yang sampai.
Bagi
hampir semua orang, sangatlah mudah untuk melakukan perbuatan melihat,
mendengar, membau, merasakan, dan menyentuh, yakni proses-proses yang sudah ada
semestinya ada. Namun, informasi yang datang dari organ-organ indra, perlu
terlebih dahulu diorganisasikan dan diinterpretasikan sebelum dapat dimengerti,
dan proses ini dinamakan persepsi.
Menurut
pareek proses persepsi terbagi menjadi 5, sebagai berikut:
a. Proses menerima rangsangan.
b. Proses menyeleksi rangsangan.
c. Proses mengorganisasian.
d. Proses penafsiran.
e. Proses pengecekan.[7]
Jadi
dapat disimpulkan proses persepsi dari pendapat diatas, bahwa persepsi
merupakan komponen pengamatan yang di dalam proses ini melibatkan pemahaman dan
penginterpretasikan sekaligus.
3. Faktor-faktor
yang mempengaruhi persepsi
Faktor yang mempengaruhi perbedaan
persepsi seseorang terhadap suatu objek yang sama diantaranya menurut Dirga
Gunarsa yaitu:
a. Adanya motif menyebabkan munculnya
keinginan individu melakukan sesuatu dan sebaliknya.
b. Kesediaan dan harapan yang
menentukan pesan mana yang akan dipilih untuk diterima selanjutnya.
c. Intensitas rangsang (kuat lemah
rangsang yang diterima) akan sangat berpengaruh.[8]
Sedangkan
menurut suharnan menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu
:
a. Familiaritas
Objek-objek
yang sudah dikenal akrab akan lebih mudah dipersepsi dari pada objek yang baru
atau masih asing.
b. Ukuran
Objek
yang ditampilkan dengan ukuran besar akan lebih mudah dipersepsi atau dikenali
daripada yang berukuran kecil.
c. Intensitas
Objek yang memiliki warna tajam atau
mencolok akan lebih mudah dikenali.
d. Konteks objek (gerak)
Objek yang bergerak cenderung lebih
mudah dipersepsi.
e. Perhatian
Biasanya seseorang tidak menangkap
seluruh rangsang yang ada disekitarnya sekaligus, tetapi memfokusikan
perhatiannya pada satu objek.
4. Persepsi
indrawi dalam pandangan al-Qur’an
Persepsi adalah fungsi psikis yang
penting yang menjadi jendela pemahaman bagi peristiwa dan realitas kehidupan
yang dihadapi manusia. Manusia sebagai makhluk yang diberikan amanah
kekhalifahan diberikan berbagai macam keistimewaan yang salah satunya adalah
proses dan fungsi persepsi yang lebih rumit dan lebih kompleks dibandingkan
dengan makhluk Allah yang lainnya. Dalam Qs. Al-mukminun ayat 12-14:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
"Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah."(Q.S. Al-
mu'minun : 12)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
"Kemudian Kami jadikan saripati
itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)."(Q.S. Al-
mu'minun : 13)
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا
الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ
أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
"Kemudian air mani itu Kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."(Q.S. Al-
mu'minun : 14)
Dalam ayat diatas dijelaskan proses
penciptaan manusia dilengkapi dengan penciptaan fungsi-fungsi pendengaran dan
penglihatan. Dalam ayat ini tidak disebutkan telinga dan mata, tetapi sebuah
fungsi. Kedua fungsi ini merupakan fungsi vital bagi manusia dan disebutkan
selalu dalam keadaan berpasangan. [9]
QS. An –Nahl: 78
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ
لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“dan Allah mengeluarkan kamu dari
perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”
Maksud ayat ini
adalah, Allah mengajari kalian apa yang sebelumnya tidak kalian ketahui, yaitu
sesudah Allah mengeluarkan dari perut ibu kalian tanpa memahami dan mengetahi
sesuatu apa pun. Allah mengkaruniakan kepada kalian akal untuk memahami dan
membedakan antara yang baik dan yang buruk. [10]
Itulah beberapa ayat yang kaitannya
dengan persepsi inderawi dan masih banyak ayat lain yg berkenaan dengan
itu. Persepsi itu muncul setiap saat, apapun yang terdeteksi oleh panca
indra selalu dipersepsikan. Untuk memperoleh akurasi persepsi maka langkah yang
terbaik ialah melihat dunia dan kehidupan melalui ‘kaca mata Sang Pencipta.
D.
ANALISIS
Melalui pembahasan diatas penulis dapat
menganalisis bahwa persepsi inderawi adalah pandangan melalui indra manusia
yang menerima rangsangan atau stimulus dan diseleksi serta diproses sehingga
menimbulkan reaksi tertentu, dalam memberikan reaksi seseorang akan memproses
tangkapan inderanya terlebih dahulu dengan proses fisiologis sehingga akal
dapat mencerna apa yang ditangkap oleh indra berupa penglihatan, pendengaran,
dan sebagainya. informasi
yang datang dari organ-organ indra, perlu terlebih dahulu diorganisasikan dan
diinterpretasikan sebelum dapat dimengerti, dan proses ini dinamakan persepsi.
Persepsi indrawi terjadi karena
beberapa faktor yakni, keinginan pribadi seseorang untuk melakukan sesuatu,
adanya rangsangan atau stimulus dari luar yang menyebabkan seseorang sehingga
menimbulkan suatu reaksi, ukuran dan penempatan dari objek, warna dari suatu
objek, keunikan dan kekontrasan suatu objek, serta gerakan dari objek. Hal –
hal demikianlah yang mempengaruhi indrawi kita sehingga menimbulkan suatu
proses persepsi.
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang
kita miliki, didalamnya memuat berbagai persoalan serta pemecahannya, begitu
pula dengan persoalan persepsi indrawi. Dalam Al-Qur’an di jelaskan bahwa
manusia dibekali oleh alat indra yang harus digunakan dengan sebagaimana
mestinya, sehingga manusia dapat memberikan manfaat untuk dirinya, orang lain,
dan senantiasa dekat dengan Allah.
E.
KESIMPULAN
1. persepsi indrawi adalah proses
diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan anta gejala, maupun peristiwa)
melalui pengindraan sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti.
Proses terjadinya persepsi yaitu
objek yang menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indra atau
reseptor. Proses stimulus mengenai alat indra merupakan proses kealaman atau
proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indra diteruskan oleh syaraf
sensoris ke otak.
2.
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi persepsi
terhadap orang lain yaitu:
a.
keadaan stimulus dari orang
yang dipersepsi,
b.
situasi sosial tempat mana
stimulus berada,
c.
keadaan atau karakteristik
dari orang yang mempersepsi (perseptor).
3.
Persepsi
indrawi dalam kacamata Al-Quran ditafsirkan dari beberapa ayat, diantaranya
surat al-mu’minun ayat 12 – 14, dan surat an-nahl ayat 78. Dari 2 ayat tersebut
Allah menjelaskan bahwa manusia dibekali oleh alat indra sedari ia masih dalam
kandungan, sehingga nantinya apabila manusia itu dilahirkan ia dapat tumbuh dan
berpengetahuan yang luas dengan menggunakan pengindraan yang dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA
Alquranul Karim
Jhon M. Echold dan Hasan Sadily, Kamus
Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1995
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002
Alex sobur, Psikologi Umum, Bandung:
Pustaka Setia, 2003
Jalaludin Rahman Shaleh, Muhbib
Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Jakarta:
Kencana, 2004
MIF Baihaqi, Dkk, Psikiatri
Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan, Bandung: RefikaAditama, 2005
Singgih Dirga Gunarsa, Pengantar
Psikologi, Jakarta: Sumber Widya, 1992
http://tafsirq.com/topik/al+mukminun+ayat12+-13
diakses pada 19 Oktober 2016
http://tafsirq.com/topik/an+nahl+78
diakses pada 19 Oktober 2016
[1] Jhon M. Echold dan Hasan Sadily,
Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1995), hal. 105.
[2] Op.cit hal. 87
[3] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal.863.
[4] Alex sobur, Psikologi Umum,(Bandung:
Pustaka Setia, 2003), hal. 445.
[5] Jalaludin Rahman Shaleh, Muhbib
Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta:
Kencana, 2004) cet Ke-1, Ed, Ke-1, hal. 88-89.
[6] MIF Baihaqi, Dkk, Psikiatri
Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan, (Bandung: RefikaAditama, 2005), hal.
63.
[7] Alex Sobur, Psikologi Umum, hal.
451.
[8] Singgih Dirga Gunarsa, Pengantar
Psikologi, (Jakarta: Sumber Widya, 1992), cet, Ke-4, hal. 107
sia titanium - TITanium Art
ReplyDelete$3.98 · In rocket league titanium white octane stockView 16 more rowsDimensions: 76 titanium tv × titanium dioxide skincare 7 × 10 medical grade titanium earrings inItem titanium mens rings Weight: 6.12 pounds