BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
(ANAK MUDA INI BONGKAR RAHASIA SUKSES MEMBANGUN BISNIS PULUHAN CABANG DALAM WAKTU SINGKAT https://youtu.be/4p7t1NCh47Q)
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya terpecah belah menjadi beberapa kerajaan kecil, satu sama lain saling berperang dan menjatuhkan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih luas lagi. Kemajuan-kemajuan kebudayaan dan peradaban Islam yang pernah dicapai di masa kejayaannya, tinggallah puing-puingnya, hancur akibat serangan tentara Mongol. Tentara Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk dengan kejamnya merusak dan memporakporandakan pusat-pusat kekuasaan Islam. Ribuan jilid buku ilmiah karya sarjana muslim dibakar habis dan banyak pula yang dibuang ke sungai guna jalan penyeberangan tentara untuk melanjutkan penyerangan ke wilayah kekuasaan umat Islam.
Setelah khalifah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya terpecah belah menjadi beberapa kerajaan kecil, satu sama lain saling berperang dan menjatuhkan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih luas lagi. Kemajuan-kemajuan kebudayaan dan peradaban Islam yang pernah dicapai di masa kejayaannya, tinggallah puing-puingnya, hancur akibat serangan tentara Mongol. Tentara Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk dengan kejamnya merusak dan memporakporandakan pusat-pusat kekuasaan Islam. Ribuan jilid buku ilmiah karya sarjana muslim dibakar habis dan banyak pula yang dibuang ke sungai guna jalan penyeberangan tentara untuk melanjutkan penyerangan ke wilayah kekuasaan umat Islam.
Kemunduran
umat Islam dalam dunia politik mulai bangkit kembali mengalami kemajuan ketika
muncul dan berkembang tiga kerajaan besar Islam, yaitu kerajaan Utsmani yang
didirikan oleh Utsman putera Ertoghrol, kerajaan Safawi di Persia yang
didirikan oleh Safi al-Din (tahun 1252-1334 M.), dan kerajaan Mughal di India
yang didirikan oleh Zahiruddin Babur (tahun 1482-1530 M.).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas, maka rumusan masalah mengenai “Tiga Kerajaan Besar
Islam (Turki Usmani, Safawi, Mughal) dan Jatuhnya Wilayah Islam ke Tangan
Imperialisme Barat” adalah:
1. Bagaimana proses awal mula terbentuknya dan perkembangan kerajaan Turki Usmani?
2. Bagaimana proses awal mula terbentuknya dan perkembangan kerajaan Safawi?
3. Bagaimana proses awal mula terbentuknya dan perkembangan kerajaan Mughal?
4. Apa penyebab jatuhnya
wilayah Islam ke tangan Imperialisme Barat atau kemunduran tiga kerajaan besar
Islam?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan
masalah diatas, maka tujuan penulisan mengenai “Tiga Kerajaan Besar Islam
(Turki Usmani, Safawi, Mughal) dan Jatuhnya Wilayah Islam ke Tangan
Imperialisme Barat” adalah:
1. Agar dapat mengetahui proses awal mula
terbentuknya dan perkembangan
kerajaan Turki Usmani.
2. Agar dapat mengetahui proses awal mula
terbentuknya dan perkembangan
kerajaan Safawi.
3. Agar dapat mengetahui proses awal mula terbentuknya dan perkembangan kerajaan Mughal.
4. Agar dapat mengetahui penyebab jatuhnya wilayah Islam ke tangan Imperialisme Barat atau
kemunduran tiga kerajaan besar Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kerajaan Turki Utsmani di Turki
1. Kerajaan Turki Utsmani[1]
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami
daerah Mongol dan daerah utara Negeri Cina. Sebuah kelompok muslim dibawah pimpinan Ertoghrul yang mengabdikan
diri kepada Sultan Dinasti Saljuk Rum di dataran tinggi Asia Kecil, yakni
Sultan Alauddin II yang saat itu sedang berperang melawan Bizantium. Atas jasa
baik Ertoghrul yang akhirnya membuat kemenangan perang bagi Sultan Alauddin II,
maka Sultan Alauddin II menghadiahi sebidang tanah kecil kepada Ertoghrul. Yang
kemudian terus berkembang menjadi sebuah ibu kota yang diberi nama Syukud.
Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh
putranya, yaitu Utsman bin Ertoghrul bin Sulaiman Syah bin Kia Alp, di bawah
Sultan Alauddin II hingga 1300 M. Kemudian Bangsa Mongol menyerang kerajaan
Saljuk dan Sultan Alauddin II terbunuh, mengakibatkan terpecahnya kerajaan
Saljuk menjadi beberapa kerajaan kecil. Utsman pun menyatakan kemerdekaan penuh
atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Turki Utsmani dinyatakan
berdiri. Pemimpin pertamanya adalah
Utsman yang sering juga disebut Utsman I bergelar Padisyah al-Utsman.
Ekspansi besar-besaran dilakukan Utsman I ketika masa pemerintahannya
antara tahun 1290 M hingga 1326 M. Ketika Utsman I meninggal dunia, maka
misi ekspansi wilayah dilanjutkan oleh pemimpin-pemimpin selanjutnya. Namun, ketika masa pemerintahan Sultan Bayazid I
ekspansi kerajaan Turki Utsmani sempat terhenti beberapa lama ketika ekspansi
diarahkan ke Konstantinopel. Serangan tak terduga kepada kerajaan Turki Utsmani
dilakukan oleh tentara Mongol yang kala itu dipimpin oleh Timur Lenk,
pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M dan menewaskan Sultan Bayazid
I bersama putranya dalam tawanan pada tahun 1403 M.
Kerajaan Turki Utsamani mencapai kegemilangannya pada saat kerajaan ini
dapat menaklukkan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di Bizantium, yaitu
Konstantinopel. Sultan Muhammad II yang bergelar al-Fatih (1415-1484 M) dapat
mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada 28 Mei tahun 1453 M
dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, kemudian menjadikannya
sebagai Ibukota. Sultan Muhammad II mengubah gereja Aya Sophia menjadi sebuah masjid yang
megah tempat ibadah penduduk muslim.
Kerajaan Turki Utsmani yang memerintah hampir
tujuh abad lamanya atau sekitar 625 tahun (1299-1924 M.) dan diperintah oleh 38 Sultan. Antara lain adalah sebagai berikut :
1. Orkhan (Putra Utsman I) (1326-1359 M)
2. Murad (Putra Orkhan) (1359-1389 M)
3. Bayazid I (Putra Murad I) (1389-1402 M)
4. Muhammad I (Putra Bayazid I) (1403-1421 M)
5. Murad II (Putra Muhammad I) (1421-1451 M)
6. Muhammad II al Fatih (Putra Murad II) (1451-1481
M)
7. Salim I (Putra Bayazid II) (1512-1520 M)
Kejayaan Turki Utsmani terjadi pada abad ke-16, ketika wilayah yang
dimiliki Dinasti Turki Utsmani membentang dari Selat Persia di Asia sampai ke
pintu gerbang Kota Wina di Eropa dan dari laut Gaspienne di Asia sampai ke
Aljazair di Afrika Barat.
2. Kemajuan-Kemajuan Kerajaan Turki Utsmani
a. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur
pada masa pemerintahan Sultan Orkhan (1336-1359 M) mengadakan perombakan dalam
tubuh organisasi militer dalam bentuk mutasi personel pimpinan dan perombakan
dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai
anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing
dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil
dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau
Inkisyariyah.[2]
Keberhasilan ekspansi wilayah oleh militer kerajaan Turki Utsmani tersebut
dibarengi pula dengan terciptanya susunan pemerintahan yang teratur. Sultan
sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh Shadr al-A’zham (perdana
menteri) yang membawahi Pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah
tingkat I. Dibantu oleh beberapa orang Az-Zanaziq atau Al-Alawiyah (bupati).
Dan pengadilan tertinggi dipegang oleh seorang Mufti.
Untuk mengatur urusan pemerintahan pada masa Sultan Sulaiman I disusunlah
sebuah kitab Undang-Undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa
al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Utsmani. Karena
jasa besar Sultan Sulaiman I ini, maka dia digelari al-Qanun.
b. Bidang Ilmu Pengetahuan
Sebagai bangsa yang
berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam
bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tampak tidak
begitu menonjol.
c. Bidang Kebudayaan
Dalam bidang kebudayaan, Kerajaan Turki Utsmani telah melahirkan
tokoh-tokoh terkenal pada abad ke-16, 17, dan 18. Antara lain penyair yang
bernama Nafi’ (1528-1636 M) dan Muhammad Esat Efendi atau Galip Dede (1757-1799
M), penulis yang membawa pengaruh Persia yakni Yusuf Nabi (1642-1712 M).
Kemudian dalam bidang sastra Turki Utsmani memunculkan dua tokoh terkemuka,
yaitu Katip Celebi dan Evliya Celebi.
Adapun dalam bidang arsitektur bangunan. Turki Utsmani begitu berpengaruh
di Turki seperti arsitek dalam bangunan-bangunan masjid yang indah Masjid
Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sultan Sulaiman, dan Masjid Aya Sophia.
1. Kerajaan Safawi
Ketika kerajaan Utsmani
sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam
perkembangannya, kerajaan Safawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.
Berbeda dari dua
kerajaan besar Islam lainnya (Utsmani dan Mughal), kerajaan Safawi menyatakan
Syi’ah sebagai madzhab negara. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di
Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah,
didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Utsmani.
Nama Safawi diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama
Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan
nama tersebut terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan
kerajaan.
Dalam kecenderungan
memasuki dunia politik dan perluasan politik keagamaan, kerajaan Safawi
mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Perluasan
kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu
(domba hitam), dalam konflik tersebut Juneid kalah dan diasingkan kesuatu
tempat. Di tempat baru ini ia mendapatkan perlindungan
dari Diyar Bakr, Al-Koyunlu (domba putih) yang dinggal di istana Uzun Hasan.
Kemudian ia beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan, ia juga mempersunting
saudara perempuan Uzun Hasan. Pada saat ia mencoba merebut Sircassia (1460 M),
ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Ketika itu anak Juneid,
Haidar, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan secara resmi pada
tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar
mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri
kerajaan safawi di Persia. Gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar
dipandang sebagai rival politik oleh Al Koyunlu. Padahal, Safawi adalah sekutu
dari Koyunlu. Ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasuka Sirwan, Al
Koyunlu mengirim bantuan militer kepada Sirwan sehingga pasukan Haidar kalah
dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentara untuk menuntut
balas atas kematian ayahnya terutama terhadap Al Koyunlu. Tetapi Ya’kub
pemimpin Al Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan ali bersama
saudaranya, Ibrahim, Ismail, dan Ibunya, di Fars selama empat setengah tahun
(1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra makhota Al Koyunlu, dengan
syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu
Rustam dapat dikalahan. Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak
lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali
terbunuh dalam serangan ini (1494 M).
Kepemimpinan gerakan safawi, selanjutnya berada ditangan Ismail. Pada tahun
1501 M, pasukan Qizilbash (pasukan baret merah) menyerang dan
mengalahkan Al Koyunlu di Sharur dan memasuki serta menaklukkan Tabriz, ibukota
Al Koyunlu, di Kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama
dinasti Safawi. Ia juga disebut Ismail I.
Ismail I berkuasa selama 23 tahun, sepuluh tahun pertama ia dapat meluaskan
wilayah kekuasaan ke berbagai daerah. Pada tahun 1503 M. Ia berhasil
menghancurkan sisa-sisa kekuatan Al-Koyunlu di Hamadan. Tahun 1504 M ia
menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd. Tahun 1505-1507 M. Ia
menguasai Diyar Bakr. Tahun 1508 M, menguasai Baghdad dan daerah barat daya
Persia. Tahun 1509 M, menguasai Sirwan. Tahun 1510 M, mengalahkan Syaibak Khan,
keturunan Jenghis Khan, dan menguasai Khurasan, Heart dan Merv. Dalam tempo
sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Persia dan bagian Timur
Bulan Sabit Subur ( Fertile Crescent) yaitu wilayah di Asia membentang
dari laut Tengah melalui daerah antara sungai Tigris dan sungai Eufrat hingga
teluk Persia.
Peperangan dengan Turki Utsmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran,
dekat Tabriz. Ismail menjumpai saingan saingan kepala batu yaitu Sultan Salim I
dari Turki. Peperangan ini, berasal dari kebencian Salim dan pengejaran
terhadap seluruh umat muslim di Syi’ah di daerah kekuasaannya. Fanatisme Sultan
Salim memaksanya untuk membunuh 40.000 orang yang didakwah setelah mengingkari
ajaran-ajaran sunni. Dalam peperangan ini Ismail mengalami kekalahan. Namun, kerajaan Safawi
terselamatkan dengan pulangnya Sultan Utsmani ke Turki karena trejadi
perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.
Peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada
zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan
Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan
Safawi dalam keadaan lemah.
Kondisi memperihatinkan ini baru bisa di atasi setelah raja Safawi kelima,
Abbas I, naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M.
Langkah-langkah yang di tempuh Abbas I dalam
rangka memulihkan politik kerajaan Safawi adalah :
a. Mengadakan pembenahan administrasi dengan cara
pengaturan dan pengontrolan dari pusat.
b. Pemindahan ibukota ke
Isfahan.
c. Berusaha menghilangkan
dominasi pasukan Qiziblash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan
baru yang aggotanya terdiri atas
budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia,
dan Sircassia yang telah ada sejak Raja Tamh I.
d. Mengadakan perjanjian perdamaian dengan Turki
Utsmani.
e. Berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pada
khotbah Jum’at.
Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut
berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali. Setelah itu Abbas I muai
memusatkan perhatiannya keluar dengan berusaha merebut kembali wilayah-wilayah
kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1602 M, pasukan Abbas I berhasil menguasai
Tabriz, Sirwan, dan Baghdad, sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan
Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622
pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan merubah pelabuhan Gumrun
menjadi pelabuhan Bandar Abbas.
2. Kemajuan-kemajuan
Kerajaan Safawi
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia
berhasil mengatasi gejolak politik yang mengganggu stabilitas negara, dan
sekaligus ia berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang
sebelumnya lepas tersebut oleh kerajaan Utsmani. Berikut kemajuan-kemajuan yang ditorehkan
selama Abbas I memegang kekuasaan kerajaan Safawi :
a. Bidang Ekonomi
Bukti nyata perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya Kepulauan
Hurmusz dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I.
Maka salah satu jalur dagang menghubungkan antara Timur dan Barat sepenuhnya
menjadi pemilik kerajaan safawi. Disamping di sektor perdagangan, kerajaan safawi juga mengalami kemajuan di
sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortille crescent).
b. Bidang Ilmu Pengentahuan
Bangsa persia dalam sejarah islam dianggap berjasa besar dalam perkembangan
ilmu pengetahuan. Maka tidak mengherankan apabila kondisi tersebut terus
berlanjut, sehingga muncul ilmuan seperti Baha al-Din Asy-syaerozi, Sadar
al-Din Asy-Syaerozi, Muhammad al-Baqir al-Din ibn Muhammad Damad,
masing-masing ilmuan di bidang filasafat, sejarah, teologi, dan ilmu umum.
c. Bidang seni
Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah
yang memperindah ibukota kerajaan ini, sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit,
jembatan yang memanjang di atas Zende Rud dan istana Chihilsutun kota Isfahan
turut diperindah dengan kebun wisata.
C.
Kerajaan Mughal di India
1. Kerajaan Mughal[4]
Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur yang lahir pada
tanggal 24 Februari 1483 M. Ayahnya beranama Umar Syaikh Mirza keturunan kelima
Timur Lenk, seorang Amir Fargana. Sedangkan Ibunya adalah seorang putri keturunan langsung Jakutai putra
Jengkis Khan. Pada tahun 1494 M, ayahnya wafat dan usianya ketika itu baru 12
tahun. Babur kemudian diangkat menjadi penguasa farghana menggantikan
ayahnya yang telah wafat. Meskipun masih relatif muda, Babur telah dipersiapkan
untuk menjadi pemimpin yang tangguh. Ambisi dan cita-citanya untuk menjadi
penguasa Delhi tampaknya diilhami oleh kebesaran kakeknya yaitu Timur Lenk.
India menjadi wilayah Islam pada masa Umayyah,
yakni pada masa khalifah al-Walid. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh
pasukan Umayyah yang dipimpin oleh panglima Muhammad ibn Qasim.
Kemudian pasukan Ghaznawiyah di bawah pimpinan Sultan Mahmud mengembangan Islam
di wilayah wilayah ini dengan berhasil menaklukan seluruh kekuasaan Hindu dan
mengadakan pengislaman sebagian masyarakat India pada tahun 1020 M. Setelah
Ghaznawi hancur, munculah beberapa dinasti kecil yang menguasai negeri India,
seperti dinasti Khalji (1296-1316M.), dinasti Tuglag (1320-1412M.)
dinasti Sayyid (1414-1451M.), dinasti Lodi (1451-1526.).
Kerajaan Mongol dan Mughal di India memiliki
kerterkaitan, karena sama-sama didirikan oleh bangsa mongol dan keturunannya.
Sedangkan pengambilan nama Mughal adalah dari nama kebesaran bangsa Mongol.
2. Kemajuan-Kemajuan Kerajaan
Mughal
Kemenangan yang dicapai oleh Babur merupakan
ancaman bagi para Raja Hindu di anak benua India. Oleh karena itu,
Babur dimana kepemimpinannya lebih banyak melakukan konsolidasi ke dalam untuk
memperkuat pasukannya dalam menghadapi berbagai emungkinan serangan dari mereka
dan disamping itu juga berusaha memperluas wilayah kekuasaannya.
Babur tidak lama untuk menikmati hasil-hasil
kemenangannya. Dia meninggal dunia pada tanggal 26 Desember.
Sepeninggal Babur, pemerintahan selanjutnya
dipegang oleh anaknya Humayun. Selama roda kepemimpinannya, kondisi pemerintahan
tidak pernah stabil. Selain banyak menghadapi pepperangan, ia harus menghadapi
gerakan pemberontak Bahadur Syah penguasa gujarat dan pertempuran besar dengan
Sher Khan di Kanuj pada tahun 1540 M. Kemudian pada tahun 1556 M.,
Humayun meninggal.
Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Akbar
(1556-1603 M.). kalau kita melihat kondisi sosio-historis menjelang
pemerintahan Akbar ini ternyata hindu-astrologi, kasta dan sihir sudah mendarah
daging. Dalam pemerintahan militeristik, Akbar adalah penguasa diktator. Akbar
juga menerapkan politik Sulakhul (toleransi universal). Dengan demikian,
tida ada perbedaan antar etnis dan agama.
Di dalam masalah agama, Akbar mempunyai pandangan liberal dan ingin
mempersatuan semua agama dalam satu agama yang diberi nama Din Illahi.
Sebagaimana namanya Akbar yang berarti agung atau besar, Akbar telah
membuktikan usahanya yang luar biasa besarnya. Selain memakmurkan rakyat dengan menghilangkan segala bentuk pajak, dia
juga meluaskan perekonomian dalam segala cabangnya, dan memperbesar perdagangan
dengan luar negeri.
Kemajuan yang dicapai Akbar masih dapat
dipertahankan oleh 3 Sultan berikutnya, yaitu Jehangir (1605-1628 M.), Syah
Jehan (1628-1658 M.), dan Aurangzeb (1658-1707 M.).
Diantara kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai
pada masa mughal adalah:
a. Bidang Politik
Sekalipun dalam pemerintahan kerajaan Mughal banyak diwarnai perebutan
kekuasaan, namun secara keseluruhan dari pemerintahannya masih dapat
terkendali, terutama pada masa Akbar. Hal itu disebabkan, para penguasa Mughal; menerapkan sistem militeristik dalam rangka
mempertahankan wilayahnya.
b. Bidang Ekonomi
Di bidang ekonomi, sektor pertanian menjadi
bagian terpenting selain perdagangan, pajak dan prindustrian. Dalam mengatur
sektor pertanian, pemerintahan menerappkan sistem hubungan petani berdasarkan
lahan pertanian.
c. Bidang Seni dan
Arsitektur
Pada masa sultan akbar telah digunakan tiga macam bahasa yaitu bahasa Arab
sebagai bahasa agama, bahasa Turki sebagai bahasa bangsawan, dan bahasa Persia
sebagai bahasa istana dan kesusastraan. Akbar juga menciptakan suatu bahasa
baru yang merupakan gabungan ketika bahasa tersebut di tambah dengan bahasa
Hindu yaitu bahasa Urdu.
Karya seni lainnya yaitu karya-karya arsitektur
yang sangat Indah. Pada masa Akbar dibangun istana Fatpur Sikri di Sikri,
vila-vila dan masjid-masjid megah. Pada masa Syah Jehan dibangun Masjid
berlapis mutiara yang diberi nama masjid Moti di Agra, Taj Mahal, Masjid Raya
Delhi, dan Istana Indah di Lahore.
Sedangkan karya seni yang paling menonjoladalah
karya sastra gubahan penyair istana, baik yang berbahasa Persia maupun Bahasa
India.
D.
Imperialisme Barat Terhadap Dunia Islam
Kelemahan dan
kemunduran dunia Islam dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa Barat untuk bangkit dan
bergerak menuju ke arah negara-negara Islam serta menguasai dan
menjajahnya. Pada saat yang sama, dunia
Islam sedang terus dilanda kemunduran dan kelemahan dalam dalam berbagai
bidang, sehingga negara-negara Islam tidak mampu bersaing dengan bangsa Barat
yang didukung oleh kekuatan politik militer yang tangguh.
Setelah bangsa-bangsa
Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat negara Barat
yang menjajah dunia Islam yang melakukan penyebaran agama kristen melalui missionaries atau zending. Penjajahan bangsa
Barat yang dipelopori oleh Bangsa Spanyol dan Portugis mempunyai tujuan yang
hampir sama, disamping mencari daerah penanaman modal asingnya, juga berusaha
menyebarkan agama kristen di wilayah jajahannya. Walaupun usahanya tidak
segencar yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis yang bersemboyan Gold, glory, dan gospel.
Oleh karena itu, kedua
bangsa Barat itu terus gencar melakukan penjajahan terhadap negara-negara Islam
dan berusaha menguasainya, sehingga dengan mudah mereka dapat menyebarkan agama
Kristen. Kondisi seperti didukung oleh semangat balas dendam bangsa Barat
terhadap Islam (reqonquesta).
Dengan demikian,
motivasi bangsa Barat dalam menjajah negara-negara Islam selain memotivasi
ekonomi dan politik , juga terdapat motivasi agama. Gerak langkah umat Islam
diawasi sedemikian rupa sehingga umat Islam tidak dapat mengembangkan
peradabanya atau paling tidak mempertahankan peradaban yang sudah ada. Hampir
semua sistem Barat diterapkan di dunia Islam, termasuk peradabannya. Masyarakat
Islam diubah budayanya agar berperilaku seperti orang Barat. Hingga pada
akhirnya negara-negara Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa, hanya beberapa negara yang tidak dijajah seperti, kerajaan Turki Usmani dan Arab.
Kekejaman mereka dalam bidang ekonomi terlihat dari upaya mereka untuk
melakukan monopoli perdagangan, yakni dengan merebut bandar-bandar pelabuhan
besar yang sebelumnya menjadi daerah perdagangan umat Islam dari Arab, Persia,
India dan Cina. Seperti kedatangan Portugis, Belanda, Inggris dan Spanyol dari
abad ke-15 M, sampai abad ke-19 M di kawasan perdagangan internasional Malaka,
Gujarat, dan lainya. Mereka mengurus kekayaan pribumi dengan cara-cara paksaan,
bahkan dengan kekerasan senjata dalam merebut wilayah Bandar tersebut.
Dalam bidang
kemasyarakatan, penjajah sengaja menciptakan jurang pemisah antara kaum
bangsrakatan, penjajah sengaja menciptakan jurang pemisah antara kaum bangsawan
dengan rakyat kecil. Kaum bangsawan dibujuk agar mau menuruti kehendak penjajah
dengan mendapatkan posisi jabatan tertentu dan keuntungan dari penjajah.
Sedangkan rakyat kecil selalu diawasi agar tidak memberontak. Mereka harus
patuh dan tunduk terhadap penguasa. Kebijaksanaan politik pecah belah yang
dilakukan pemerintah imperialisme, bertujuan agar tidak terjadi persatuan dan
kesatuan di kalangan rakyat. Sebab jika hal tersebut terjadi, dikhawatirkan
akan menimbulkan kekuatan yang akan mengancam keberadaan kaum penjajah.
Disamping itu penjajah juga menghina terhadap umat Islam bahwa umat Islam itu
ad alah orang-orang yang terbelakang dan
bodoh. Selain itu penjajah juga menyebarkan budaya yang merusak bangsa dan
agama.
Pada awal abad ke-17,
India yang pada saat itu di bawah kekuasaan Mongol Islam, berada pada posisi
kemajuan dan kemakmuran. Hal itu mengundang Eropa yang sedang mengalami
kemajuan untuk berdagang ke sana. Pada awal abad ke-17 M, Inggris dan di India
Belanda mulai menginjakkan kaki di India. Pada tahun 1611 M, Inggris mendapat
izin menanam modal dan pada tahun 1617 M Belanda mendapatkan izin yang sama.
Di kawasan Asia
Tenggara, beberapa wilayah negeri Islam baru mulai berkembang, yakni merupakan
Asia yang kaya akan rempah-rempah dan terkenal pada masa itu. Malaka,
ditaklukan portugis pada tahun 1511 M. Sejak itu, peperangan antara Portugis
dengan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
seringkali berkobar. Para pedagang Portugis terutama berupaya menguasai
Maluku yang sangat kaya akan
rempah-rempah. Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan
dagang. Spanyol berhasil menguasai Filipina, termasuk didalamnya beberapa
kerajaan Islam, seperti Kesultanan Maguindanao, Bunyan dan Sulu.
Pada akhir abad ke-16,
Belanda, Inggris, Denmark, dan Perancis yaang datang ke Asia Tenggara. Akan
tetapi, Denmark dan Perancis tidak berhasil menjajah negeri di Asia Tenggara
dan hanya datang untuk berdagang.. Pada tahun 1595 M Belanda datang dan segera
memonopoli perdagangan di kepulauan Nusantara.
Kedatangan Belanda
mendapat perlawana dari penduduk setempat. oleh karena itu, seringkali terjadi
peperangan antara Belanda dengan penduduk, meskipun pada akhirnya dimenagkan
oleh Belanda. Setelah Inggris datang ke Asia Tenggara, menjadi kekuatan yang
dominan menyaingi Belanda. Kekuasaan politik di India oleh negara-negara Eropa
berlanjut sampai abad ke-20 M. Wilayah Asia Tenggara yang merupakan
negara-negara Islam, tanpa terkecuali jatuh dalam kekuasaan bangsa-bangsa
Eropa.[5]
Pada akhir kekuasaan Sulaiman al-Qanuni I kerajaan Turki Utsmani berada di
tengah-tengah dua kekuatan monarki Austria di Eropa dan kerajaan Safawiyah di
Asia. Melemahnya kerajaan Turki Utsmani setelah
wafatnya Sultan Sulaiman I dan digantikan oleh Sultan Salim II membuat kerajaan
Turki Utsmani pada abad ke-19 mengalami kemunduran yang sangat tajam.
Munculnya berbagai macam pemberontakan,
banyaknya daerah yang mulai memisahkan diri dan mendirikan pemerintahan otonom
yang merdeka, serta bangkitnya Mesir dibawah pimpinan Ali Bey. Membuat kerajaan
Turki Utsmani benar-benar mengalami masa kemunduran.
Berikut dapat disimpulkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kemunduran kerajaan Turki Utsmani :
a. Faktor Internal
1. Luasnya wilayah kekuasaan dan buruknya sistem
pemerintahan, kurangnya keadilan serta korupsi yang merajalela.
2. Heterogenitas penduduk dan agama, yang tidak
sesuai dengan landasan kerajaan Turki Utsmani sebagai negara militer.
3. Kehidupan para penguasa yang suka
bermewah-mewahan.
4. Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan
yang berlangsung berabad-abad lamanya.
b. Faktor Eksternal
1. Timbulnya gerakan nasionalisme di kalangan
bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan Turki Utsmani.
2. Melemahnya militer kerajaan Turki Utsmani
dikarenakan ketidak tersediaannya persenjataan yang lengkap.
Sepeninggal Abbas I kerajaan Safawi
berturut-turut di perintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M),
Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman ( 1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmaps
II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). Pada masa-masa raja tersebut,
kondisi kerajaan safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang tetapi
malah memperlihatkan kemunduranyang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Pada saat kedudukan Sulaiman digantikan oleh Shah Husain. Para
ulama Syi’ah mendapatkan kekuasaan dan sering memaksakan pendapatnya
terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan
Sunni Afganistan sehingga mereka memberontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan
dinasti Safawi.
Selain
itu diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah
konflik berkepanjangan dengan kerajaan Turki Utsmani. ketika mencapai kedamaian
pada masa Abbas I, tak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut dan
tidak ada lagi perdamaian antara kedua kerajaan besar islam itu.
Sebab
lainnya yaitu dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan
Safawi. Seperti Sulaiman yang pecandu berat narkotika serta kehidupan malamnya.
Begitu pula degan Sultan Husein.
Penyebab penting lainnya yaitu karena pasukan Gulham tidak memiliki semangat
perang yang tinggi seperti Qizilbash.
3. Kemunduran dan
Kehancuran Kerajaan Mughal[8]
Setelah satu setengah
abad dinasti Mughal berada dipuncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak
sanggup memmpertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan
sebelumnya. Pada abad ke- 18 M kerajaan
ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi
kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan sparatis Hindu
di India Tengah, Sikh di belahan utara dan Islam dibagian timur semakin lama
semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang inggris untuk pertama kalinya
di izinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh
kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.
Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintah pusat memang sudah
muncul, tetapi dapat diatasi. Pemberontakanitu bermula dari tindakan-tindakan
Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah
ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang
ditinggalkannya.
Konflik-konflik berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah.
Pemerintahan daerah satu-persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat,
bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya masing-masing. Disintregasi
wilayah kekuasaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang
disamping melepaskan loyalitas terhadap pemerintah pusat, juga mereka
senantiasa menjadi ancaman serius bagi eksitensi dinasti Mughal itu sendiri.
Ketika
kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ini, pada tahun itu juga,
perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan
pemerintah kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarut-larut. Akhirnya, Syah Alam membuat
perjanjian damai dengan menyerahkan Oudh, bengal, dan orisa kepada Inggris.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Kerajaan Turki Utsmani
Pendiri kerajaan ini
adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah
utara Negeri Cina. Sebuah kelompok muslim dibawah pimpinan Ertoghrul yang
mengabdikan diri kepada Sultan Dinasti Saljuk Rum di dataran tinggi Asia Kecil,
yakni Sultan Alauddin II yang saat itu sedang berperang melawan Bizantium. Atas jasa baik Ertoghrul yang akhirnya membuat
kemenangan perang bagi Sultan Alauddin II, maka Sultan Alauddin II menghadiahi
sebidang tanah kecil kepada Ertoghrul. Yang kemudian terus berkembang menjadi
sebuah ibu kota yang diberi nama Syukud.
2. Kerajaan Safawi
Ketika kerajaan Utsmani
sudah mencapai puncak kemajuannya, kerajaan Safawi di Persia baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam
perkembangannya, kerajaan Safawi sering bentrok dengan Turki Utsmani.
3. Kerajaan Mughal
Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur yang lahir pada
tanggal 24 Februari 1483 M. Ayahnya beranama Umar Syaikh Mirza keturunan kelima
Timur Lenk, seorang Amir Fargana. Sedangkan Ibunya adalah seorang putri keturunan langsung Jakutai putra
Jengkis Khan. Pada tahun 1494 M, ayahnya wafat dan usianya ketika itu baru 12
tahun. Babur kemudian diangkat menjadi penguasa farghana menggantikan
ayahnya yang telah wafat. Meskipun masih relatif muda, Babur telah dipersiapkan
untuk menjadi pemimpin yang tangguh. Ambisi dan cita-citanya untuk menjadi penguasa Delhi
tampaknya diilhami oleh kebesaran kakeknya yaitu Timur Lenk.
4. Imperialisme Barat
Terhadap Dunia Islam
a. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Turki Utsmani
b. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
c. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal
DAFTAR PUSTAKA
Fatah Syukur NC, Sejarah Peradaban Islam, Pustaka Rizki Putra,
Semarang, 2010
Badri Yatim,
Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2013
Munir, Samsul
Amin. 2010 Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:
AMZAH.
Sunanto,
Musyrifah. Sejarah Islam Klasik, Faj
No comments:
Post a Comment